Suasana Aula Kantor Kelurahan Malaka Sari, Jakarta Timur, terasa berbeda pada Selasa pagi, 22 Oktober 2026. Aroma hangat jahe, sereh, dan kayu manis menyeruak dari meja demo, berpadu dengan tawa dan antusiasme ibu-ibu PKK DKI Jakarta yang memadati ruangan. Kegiatan Demo Jamu Akademi Herbal Nusantara (AHN) Pusaka Indonesia ini digelar bersama ibu-ibu PKK DKI Jakarta untuk wilayah DKI Jakarta – Banten, dan diikuti oleh 60 orang peserta yang terdiri dari 10 orang Kader PI dan 50 orang peserta Non PI.
Di atas meja yang ditutup kain merah muda, terlihat bahan-bahan segar seperti jahe, lemon, sereh, dan aneka rempah lainnya. Di sampingnya, teko kaca berisi jamu berwarna keemasan yang baru saja diseduh. Di sebelah meja, dua fasilitator dari AHN dengan seragam merahnya menjelaskan langkah demi langkah cara meracik jamu yang benar, sambil mempraktikkannya langsung di depan peserta.
Pada sesi kali ini, peserta diajarkan dua resep utama, yaitu Jamu Imunitas Golden Citrus dan Jamu Flu Batuk Demam. Untuk Jamu Imunitas Golden Citrus, dijelaskan bahwa resepnya adalah kunyit satu jari dan air perasan jeruk nipis atau jeruk lemon secukupnya.
Cara membuatnya sangat mudah. Pertama-tama, didihkan terlebih dahulu air dengan takaran 400ml. Setelah itu, rebus kunyit selama 10 sampai 15 menit. Setelah selesai direbus, kompor dimatikan lalu tunggu sampai uap panasnya hilang.
Baca juga: Menyebarkan Semangat Herbal Nusantara, Menguatkan Kesehatan Keluarga
Kandungan Vitamin C pada herbal akan hilang jika dipanaskan dengan air pada suhu 30° celcius. Oleh karena itu, kita dapat menambahkan air perasan jeruk nipis atau lemon secukupnya pada saat uap panasnya sudah menghilang. Kemudian, apabila ingin mendapatkan rasa jamu yang manis, kita dapat menambahkan gula batu.
Sedangkan untuk Jamu Flu Batuk Demam, peserta diajak menggunakan bahan rimpang yang ada di dapur, yaitu satu ruas jari kunyit, satu ruas jari jahe, dan satu jempol kencur, ditambah juga sereh 1 batang dan asam jawa sekitar ⅕ – 1 sendok makan. Setelah air sebanyak 300 ml direbus sampai mendidih, rimpang tersebut dimasukkan dan direbus dengan api kecil selama 10 – 15 menit, dan setelah api dimatikan barulah ditambahkan gula aren.
Satu per satu peserta menyimak dengan seksama, ada yang mencatat resep di buku, ada yang memotret dengan ponsel, ada juga yang langsung bertanya soal takaran dan cara penyajian yang tepat untuk keluarga di rumah.

Tim AHN membawakan demo meracik jamu
Saat acara berlangsung, salah seorang peserta bertanya apakah ada jamu yang bisa dikonsumsi untuk mengatasi tekanan darah tinggi. Menanggapi pertanyaan tersebut, Ine Redjamat selaku Koordinator Bidang AHN menyebutkan beberapa herbal yang dapat membantu menormalkan tekanan darah, yaitu bawang putih, daun salam, atau jahe. Namun, ia mengingatkan jika selama ini sudah rutin mengonsumsi obat untuk menjaga tekanan darah, dan akan beralih menggunakan herbal, sebaiknya dilakukan secara bertahap. “Coba konsumsi herbal dulu dalam takaran minimal, kemudian amati respon tubuh, dan jika cocok bisa dilanjutkan. Setelah itu, pantau bagaimana dampaknya terhadap tekanan darah secara berkala dan konsultasikan kepada dokter,” jelas Ine.
Sri Lestari, yang merupakan perwakilan Kelompok Kerja (Pokja) 1 TP PKK Kelurahan Malaka Sari mengatakan, bahwa demo jamu yang diadakan AHN Pusaka Indonesia seru dan bermanfaat. “Saya berharap peserta dapat mempraktekkannya di rumah, sehingga ilmu yang didapat tidak hanya berhenti di aula kelurahan, tapi benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh keluarga masing-masing,” ucapnya.
Kesan serupa disampaikan Henny Hendarsih, yang merupakan perwakilan Pokja 2 TP PKK Kelurahan Malaka Sari. Baginya, ilmu meracik jamu bukan sekadar tren baru, melainkan ilmu nenek moyang yang sebenarnya sudah ada sejak dahulu. Sejak kecil, Henny mengaku sudah rutin minum jamu setidaknya 2-3 kali seminggu. Ia selalu mengonsumsi aneka bahan herbal yang diracik menjadi minuman sehat, contohnya ramuan jahe, sereh, dan kayu manis. “Rutinitas itu saya jalani untuk menjaga daya tahan tubuh dan menjaga kestabilan tekanan darah. Buat saya, jamu bukan hanya minuman, tapi bagian dari gaya hidup sehat keluarga Indonesia,” paparnya.
Baca juga: Edukasi Herbal AHN: Cegah Penurunan Daya Ingat dan Atasi Susah Makan Anak
Melalui demo ini, AHN ingin menyampaikan pesan sederhana bahwa jamu bisa dibuat sendiri di rumah dengan bahan yang mudah didapat, dan manfaatnya nyata untuk keluarga. Ibu-ibu PKK yang selama ini menjadi garda terdepan kesehatan keluarga di lingkungan masing-masing, kini dibekali keterampilan baru. Tidak hanya bisa meracik untuk keluarga sendiri, tapi juga bisa membagikannya kembali ke masyarakat.
Kegiatan di Malaka Sari pun ditutup dengan suka cita. Para peserta pulang membawa resep, pengetahuan, dan semangat baru, bahwa menjaga kesehatan tidak harus mahal. Cukup dari dapur, dari rempah, dan dari warisan nenek moyang yang kembali dihidupkan.
Listiana Ulya
Kader Pusaka Indonesia DKI-Banten
Reaksi Anda:






