Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 19 November 2025, menyebutkan bahwa Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyebab kematian utama di dunia. Sejak 2022, Indonesia tercatat berada di urutan kedua secara global sebagai negara dengan kasus TB  terbanyak, setelah India. Pengobatan TB masih menjadi tantangan karena penularannya sulit dikendalikan dan biaya pengobatan yang mahal. Untuk proses penyembuhan, dibutuhkan waktu yang cukup lama, minimal 6 bulan proses pengobatan secara rutin dan tuntas. 

Penderita TB dibagi menjadi 2 kategori, yakni TB Sensitif Obat (TB SO) dan TB Resisten Obat (TB RO). Penderita TB SO dapat merespon dengan baik terhadap obat yang diberikan, sehingga memiliki peluang kesembuhan lebih tinggi. Sedangkan pada penderita TB RO,  biasanya tubuh tidak merespon obat disebabkan berbagai faktor. Di antaranya penggunaan obat tidak tepat, dosis tidak sesuai, tertular pasien TB RO, atau ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan. 

Pasien TB RO biasanya membutuhkan durasi pengobatan yang lebih lama, yakni 9-24 bulan atau lebih. Risiko penularannya pun jauh lebih kompleks. Di sisi lain, pengobatan dengan jangka waktu yang lama serta efek samping obat yang tinggi, sering kali membuat pasien mudah mengalami tekanan  psikologis maupun sosial. 

TB RO terbagi menjadi beberapa jenis yaitu mono resistant, resistant, multi drug resistant, dan extensively drug resistant. Pengklasifikasian tersebut penting untuk menentukan jenis pengobatan yang tepat  sesuai kebutuhan pasien. Penderita TB RO membutuhkan pendampingan yang lebih intens, baik dari tenaga medis maupun lingkungan terdekat, agar mampu menyelesaikan proses pengobatan yang panjang untuk mencapai kesembuhan yang diharapkan.

Baca juga: Dukung Terapi Penyembuhan TBC dengan Tanaman Herbal

Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan Efek Sampingnya 

Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang berhasil ditemukan ahli medis dapat bekerja membunuh bakteri TB hingga tuntas jika dikonsumsi secara teratur dan sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Namun di sisi lain, OAT juga memiliki efek samping yang luar biasa, mulai dari kategori ringan hingga berat. Efek ringan dapat berupa gangguan saluran pencernaan (mual dan muntah), nyeri otot dan sendi, gatal dan kemerahan, kesemutan, urin berubah warna, dan rasa terbakar. Sedangkan efek samping berat di antaranya berupa gangguan fungsi hati, gangguan pendengaran, ruam kulit parah, gangguan penglihatan, gangguan saluran kemih, hingga resistensi obat dan alergi. 

Efek samping OAT yang begitu beragam dapat menambah penderitaan pasien. Tanpa dukungan intens dari keluarga dan ahli medis, seringkali pasien menyerah untuk melanjutkan pengobatan. Sedangkan proses pengobatan yang berhenti di tengah jalan atau tidak tuntas, harus diulang kembali dari awal. Selain itu, pengobatan yang terputus akan membuat pasien semakin resisten terhadap OAT, sehingga kemudian dokter akan memberikan obat dengan dosis yang lebih tinggi, durasi pengobatan yang bertambah panjang, dan tentu biaya yang lebih mahal.

Peran Herbal sebagai Terapi Komplementer Pengobatan TB

Dengan segala kompleksitas proses penyembuhan TB, kabar baiknya adalah, ternyata proses pengobatan utama dapat didukung (komplementer) dengan pengobatan herbal. Akademi Herbal Nusantara (AHN) Pusaka Indonesia, turut mendorong dan mengkampanyekan penanggulangan TB dengan herbal, lewat berbagai kegiatan. 

Salah satunya melalui webinar bertajuk ‘Darurat TBC, Temukan Kekuatan Herbal dalam Membantu Pengobatan TBC’ yang diselenggarakan pada 14 Juni 2026 lalu. Kegiatan ini diselenggarakan dengan berkolaborasi dengan Dokter Prapti Utami, seorang dokter herbal medis bersertifikasi yang telah berpengalaman selama lebih dari 25 tahun. 

Dr Prapti mengungkapkan, TB dapat disembuhkan melalui pengobatan teratur sesuai prosedur kesehatan. “Selain itu, Indonesia memiliki iklim tropis yang dapat menumbuhkan beraneka ragam tanaman obat yang dapat digunakan untuk pencegahan dan membantu proses pengobatan,” jelasnya. Dr Prapti menambahkan, dengan imunitas yang kuat, konsumsi jamu secara rutin dengan waktu jeda yang tepat, kita dapat terhindar dari serangan virus maupun bakteri termasuk bakteri TB. 

Acara ini diikuti dengan antusias oleh masyarakat umum dan kader Pusaka Indonesia yang tersebar dari berbagai wilayah, yang menunjukkan bahwa materi ini memang sangat dibutuhkan. Total peserta mencapai 88 orang. Beberapa materi utama yang diberikan, di antaranya adalah pengenalan tentang penyintas TB, herbal pendukung, dan bagaimana memanfaatkan herbal dengan benar untuk mendukung proses kesembuhan.

Dr Prapti menjelaskan, konsumsi herbal sebagai terapi komplementer TB sangat dibutuhkan. Hal ini karena herbal mampu mengurangi efek samping OAT, sekaligus mampu menjaga imun tubuh ketika proses pengobatan sedang berlangsung. Salah seorang peserta yang juga penyintas TB, Okta Handayani, menceritakan pengalamannya dalam proses pengobatan. “Ada efek samping berupa mual, muntah, lemes, nafsu makan turun, rambut rontok, kulit kering, hingga mata rabun,” ungkapnya. Dengan minum herbal, ia merasakan tubuhnya lebih bertenaga, mual dan muntah mereda, dan nafsu makan mulai membaik.

Baca juga: Mengenal Penyakit Tuberkulosis (TBC) di Indonesia

Resep Jamu untuk Komplementer Pengobatan TB

Resep jamu yang dapat dibuat penderita TB untuk mengurangi efek samping obat, sangat sederhana. Ramuan ini dapat meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi gangguan pencernaan, dan mendukung keberhasilan proses pengobatan.

Bahan: 

  • Temulawak 2 ruas jari
  • Kunyit 1 ruas jari

Cara Membuat:

  • Setelah dicuci bersih, kedua bahan diiris, digeprek, atau parut.
  • Seduh dengan 150 cc air panas. 
  • Tunggu hangat, lalu saring dan tambahkan madu secukupnya. Ramuan siap disajikan.

Resep ini bisa dibuat selama 5 hari berturut-turut, lalu memberi jeda 2 hari. Selama jeda, pasien dapat mengkonsumsi herbal lainnya seperti kencur, sereh, atau jahe.

Selain konsumsi herbal sebagai terapi komplementer, yang tidak kalah penting adalah menjaga pola hidup seimbang. Seperti minum air putih yang cukup, istirahat, mengelola stres, makan dengan nutrisi yang seimbang, serta olahraga yang disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien.

 

Ata Astuti
Kader Pusaka Indonesia Jawa Barat 

Daftar Pustaka:

  1. WHO: Tuberkulosis Tetap Pembunuh Menular Utama Dunia, Renggut 1,23 Juta Jiwa
  2. ANALISIS HASIL MIKROSKOPIS DAN KULTUR Mycobacterium tuberculosis PADA PASIEN SUSPEK TUBERKULOSIS DI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA TAHUN 2022 – Unas Repository
  3. Mengenal Perbedaan Pasien TB SO dan RO: Wajib Tahu agar Tak Salah Penanganan!
  4. Tb dan Tbc Apakah Sama? Yuk Pahami Lebih Dekat Sekarang
  5. WHO Rilis Data Baru, Kasus TBC di Indonesia Masih Peringkat Ke-2 di Dunia

Reaksi Anda:

Loading spinner