Mencicipi jamu dan belajar mencampur media tanam, Pusaka Indonesia menghadirkan pengalaman edukatif dalam Parara World Food Day 2026 yang bertajuk “Pasar Hijau Rakyat” pada Sabtu, 17 Oktober 2026 lalu di Plaza Lippo Ekalokasari, Kota Bogor. Melalui Akademi Herbal Nusantara (AHN) dan Sigma Farming Academy (SFA), Pusaka mengajak masyarakat mengenal kekayaan dan manfaat herbal serta pentingnya praktik hidup berkelanjutan. 

Di Pasar Hijau Rakyat, PARARA dan belasan mitranya yang turut berpartisipasi di event tersebut, mengajak masyarakat untuk lebih mengenal, menghargai, dan mendukung produk pangan lokal dari berbagai daerah di Indonesia. PARARA, singkatan dari Panen Raya Nusantara, merupakan gerakan bersama yang melibatkan 30 organisasi masyarakat sipil dan 108 komunitas produsen. Gerakan ini mendorong pelestarian kearifan lokal serta pengembangan produk komunitas secara berkeadilan dan berkelanjutan. Selain Pusaka Indonesia, beberapa lembaga yang turut berpartisipasi, antara lain Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), The Samdhana Institute, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil Mikro (ASPPUK), Slow Food Community, Sokola Rimba, dan Bapalok Kupang. 

Bazar menjadi salah satu agenda utama yang menghadirkan beragam produk, mulai dari sayuran segar organik, madu, gula aren, kopi, cokelat, olahan singkong dan ikan, sorgum, jamu, sirup pala, hingga aneka makanan dan produk kerajinan lokal. Keberagaman produk ini memperlihatkan kekayaan sumber daya pangan Nusantara sekaligus potensi komunitas lokal dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Baca juga: Sigma Farming Academy Sebarkan Cinta Berkebun untuk Warga Kantoran

Dari Booth Pusaka Indonesia: Mencicipi Jamu dan Belajar Bertanam

Booth Akademi Herbal Nusantara (AHN)

Booth Akademi Herbal Nusantara (AHN)

Melalui booth Akademi Herbal Nusantara (AHN), pengunjung diajak mengenal kekayaan herbal Nusantara lewat sajian jamu yang dikemas lebih kekinian tanpa meninggalkan khasiat bahan-bahan alaminya. Tim AHN menghadirkan empat resep jamu untuk dicicipi pengunjung, dilengkapi dengan pameran edukatif tentang herbal.

Pada sore hari, Koordinator Bidang AHN, Ine Redjamat, turut berbagi pengetahuan mengenai kekayaan herbal Nusantara serta berbagai kegiatan yang dilakukan AHN, untuk memperkenalkan pemanfaatan herbal kepada masyarakat.

Sementara itu, Sigma Farming Academy (SFA) mengajak pengunjung belajar urban farming melalui praktik langsung. Pengunjung diajak meracik media tanam sendiri, yang bisa dibawa pulang ke rumah bersama bibit sayuran dan planter bag.

Pada siang hari, tim SFA yang terdiri atas Agus Haryono dan Mila Setiarini memandu praktik mencampur media tanam. Kegiatan ini memperkenalkan langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mulai menanam di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Kedua booth tersebut menghadirkan edukasi secara partisipatif. Pengunjung tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga berkesempatan mencicipi jamu dan praktik bertanam. Sejumlah pengunjung bahkan aktif bertanya tentang berbagai kiat praktis untuk mulai menanam di pekarangan rumah masing-masing. 

Pengalaman langsung tersebut mendapat sambutan positif dari pengunjung. “Saya jadi paham cara bertanam, ternyata bisa pakai limbah daun dan dapur juga,” tutur Yayuk Pertiwi, salah seorang pengunjung yang datang dari Dramaga, Bogor. 

Baca juga: Belajar Membuat Jamu Bersama PKK, Membangun Kesehatan Keluarga dari Dapur

Sorgum dalam Cookies: Inisiatif Kader SEA Pusaka Indonesia

Partisipasi Pusaka Indonesia juga hadir melalui panggung talkshow Aksi Kita Sapa Bumi, yang disiarkan melalui Pro 2 FM RRI Bogor dan kanal YouTube RRI Bogor Official. Dalam sesi yang dipandu Dely Tambunan dan Said Abdullah tersebut, Pusaka diwakili oleh Ficky Yusrini, kader Social Entrepreneur Academy (SEA) Pusaka sekaligus pendiri Sorde, merek kukis berbahan dasar sorgum. 

Dalam perbincangan tersebut, Ficky menceritakan awal perkenalannya dengan sorgum melalui kegiatan Pusaka Indonesia yang memiliki kebun riset di Kabupaten Kuningan. Ia juga mengenal komoditas ini melalui PT Bumi Nusantara Gemah Ripah (BNGR), mitra afiliasi Pusaka yang membudidayakan sorgum secara organik.

Ketertarikan Ficky terhadap sorgum berawal dari gagasan kedaulatan pangan yang diusung BNGR. Ia kemudian terdorong untuk turut memperkenalkan sorgum kepada masyarakat. Dari ketertarikan tersebut, lahirlah ide mengolah sorgum menjadi kukis, sebagai upaya menghadirkan alternatif pangan lokal dalam bentuk yang lebih akrab dan mudah dinikmati.

Talkshow ini juga menghadirkan petani dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, serta Lembah Batu Sota, Bogor, yang berbagi pengalaman mengenai potensi pangan lokal serta tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan usaha mereka.

Selain bazar dan talkshow, acara ini juga diisi dengan demo pengolahan pangan lokal. Pengunjung dapat menyaksikan demo pembuatan minuman telang aromatik serta demo memasak rebung dan woperaggu oleh Komunitas Bapalok Kupang. Woperaggu merupakan camilan khas Pulau Sabu Raijua, yakni sorgum yang diolah menyerupai popcorn, dipadukan dengan kacang tanah utuh dan gula lontar.

Bagi Pusaka Indonesia, partisipasi dalam Parara World Food Day 2026 merupakan bagian dari upaya mendekatkan pengetahuan tentang herbal dan pertanian kepada masyarakat melalui edukasi yang aplikatif dan pengalaman langsung.

Sebagaimana disampaikan oleh Niniek Pebriany, Kepala Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Pusaka Indonesia, yang membawahi Sigma Farming Academy dan Akademi Herbal Nusantara. “Bagi kami, AHN dan SFA bukan hanya sebagai ruang untuk mengenalkan jamu dan pertanian, tetapi juga sarana pendidikan dan pemberdayaan bagi kader Pusaka Indonesia maupun masyarakat luas. Kami ingin pengetahuan ini tidak berhenti sebagai informasi saja, melainkan menjadi keterampilan dan praktik nyata yang mendorong kemandirian masyarakat. Semangat ini sejalan dengan prinsip Trisakti: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berbudaya sesuai jati diri,” ungkapnya.

 

Ficky Yusrini
Kader Pusaka Indonesia Jawa Barat

Reaksi Anda:

Loading spinner